Informasi Umum
Nama Negara : Daehanmin Guk (Republik Korea / Korea Selatan)
Letak dan wilayah :Asia Timur Laut, 99.000 km2 (45% dari luas wilayah semenanjung Korea)
Bendera Nasional : Taeguk Ki, melambangkan keselarasan dan perdamaian dunia
Lagu Kebangsaan : Aeguk Ga (애국가)
Bunga Nasional : Mugunghwa (mawar sharon), Mugunghwa berarti bunga keabadian.
Populasi : 47.640.000 (data th.2002). Korea memiliki tingkat kepadatan penduduk ketiga tertinggi di dunia setelah Singapura & Hongkong. (463 jiwa/km2)
Suku Bangsa : Sebagian besar ras Mongoloid. Penduduk Mongolia, Manchuria dan Turkistan yang berasal dari kelompok etnis yang sama.
Ibukota : Seoul
Agama : Budha 26,3%, Kristen 18,6%, Katholik 7%, lain2 1,7%. orang Korea yang beragama cuma 53,6%
Mata Uang : Won (US$ 1 = KRW 940)
Bahasa : Bahasa Korea (Han Guk O’).
Kebiasaan dari orang-orang Korea yaitu :
* Mereka itu kalo lagi kesakitan atau kesemutan demen banget jilat jari terus disentuhin ke hidung
* Kebiasaan gendong orang mabuk ( habis disana ga ada bajaj sih.. jadi ya di gendong, naik taxi kan mahal.. banyakan sih mereka naik bus, tapi bus kan ga berhenti pas di depan rumah.. ya harus jalan, jadi orang mbknya di gendong.. kalo cari taxi juga kan ga bisa nyetop sembarangan kayak di Indonesia begini…)
* Kebiasaan makan mi langsung dari panci (ke praktisan.. kebanyakan panci yang dipake adalah panci kuningan, which is lebih mudah dingin.. btw, mi korea itu enak banget loh.. lagian byar gax nyuci pirik 2X, panci + piringnya…dan katanya sih kalo makan lansung bersama dari panci akan terasa kekeluargaanya (apa coba)
* Kebiasaan makan mi bunyi “slurps” (inilah membuat aq kadang2 sebel nonton film korea adalah ketika adegan makan..ampon dah..membuat lapar mulu..liat mereka makan dengan napsunya..aduh engga nahan deh )
* Kebiasaan punya meja panjang ( kayaknya mereka itu respek banget sama pemandangan malam, seringkan ada adegan tiduran malam2 di musim panas dimeja itu sambil lihat bintang.. owww so sweetzz ( jadi pengen punya meja gituan dech )
* Kebiasaan ngomong aigo ( mirip dengan orang chinese kalo ngomong aiyo atau aiya… mirip kita ngomong dengan akhiran “deh, kan, sih”
* kebiasaan pegang telinga habis pegang panci panas (katanya sih telinga itu merupakan organ tubuh yang paling stabil suhunya..)
* Kebiasaan mukul kepala (mukul kepala adalah hal yang lumrah di korea..denger2 sih kalo ortu disana dengen gebuk kepala anaknya biar pinter..apa coba adanya juga anaknya stress digituin..)
* Kebiasaan sopan sama pembeli or pelanggan ( ako paling suka kebiasaan ini, jarang ada di Indonesia, hanya dengan beli es krim Korea seharga 10 ribu, dia bilang hati2 dijalan.. baik sekali ya… coba semua pedagang seperti itu)
* Orang2 korea kalau makan pasti penuh banget dimulutnya ampe kesedek liatnya apalagi kalo mereka sambil ngomong pasti tuh mulut sampe monyong2..haha..yang lbh parah lagi kalo sambil marah..tuh makanan semua muncrat2 kasian banget orang yang di marahin..)
* Kebiasaan gosok gigi (ako masukin ini sebagin kebiasaan mereka..karna dalam setiap film ato drama selalu ada adegan gosok gig..yah yg sambil ngomong ,nyanyi apalah segala macam..)
* Kebiasaan kalo lagi kesal ngomongnya ditekankan pada satu kata, kesannya seperti orang pengen meludah.. mungkin karena kesal banget jadi pengen ngeludah ya…(ako pernah iseng nyobain kyk gini yg hasilnya ako kesedek sampe batuk2)
* Kuat banget makan dan mabuk (tidak usah diragukan)
* Kalau matiin HP batrenya langsung dicopot (denger2 HP disana engga ada tombol REJECT jadi cara tercepat adalah dengan mencopot batre)
* Suka banget kalo lagi sedih pergi ke atap dan merenungi nasib (mungkin karna pemandangan disana enak kali ya)
* Jarang mandi kalo lagi musim dingin (not sure about this..tp bisa aja secara korea kalo musim dingin..dingin banget boo)
* Suka banget mecahin telor pake kepala (kagak jelas maksudnya apa tp yg pasti patut untuk dicoba)
* Suka makan BAWANG PUTIH (dipercaya dapat menetralkan darah..biar engga darah tinggi gitu)
* Kebiasaan makan yang panas2 (dengan ini banyak orang korea yang bhkan belum berumur 40 harus memakai gigi palsu karna gigi aslinya hancur)
* Kebanyakan co korea tuh lebih perasa , romantis ,penyabar dan rapuh hatinya (?) daripada ce nya..(beda banget sama di indonesia)
* Sumpit harus stanless steel gag boleh yang lain (ada sejarahnya mengpa mereka hanya mau menggunakan sumpit yang seperti itu
Kebiasaan Buruk Orang Korea
* Orang Korea Selatan sering menyuguhkan minuman beralkohol sebagai penghargaan pada teman atau tamunya.. Minuman beralkohol merupakan hal yang biasa di Korea Selatan, baik untuk laki-laki dan perempuan.( karena ako bukan peminum, jdi menurutku Itu hal yang buruk … Bila kita menghadapinya, sebaiknya kita menerima dulu minuman tersebut baru kemudian diletakkan lagi dan kemudian minta minuman ringan lainnya ( itu sekedar tips saja.. hehehehe )
* Orang Korea Selatan bertemperamen tinggi dan kasar terutama dengan orang yg menjadi bawahannya, mereka sering bicara keras seperti orang marah, diselingi makian dan kadang tangan memegang / mendorong kepala dimana hal tersebut dianggap hal biasa
* Makanan yang disantap orang Korea Selatan umumnya banyak mengandung Babi, anjing juga bnyak…
* Makan di dalam kamar merupakan hal yang tabu, karena dipercayai membuat rezeki tidak akan masuk / menjauhkan dari rezeki …
* Korea Selatan menegur atau membentak, kadang memaki bawahannya langsung saat itu juga bila melakukan kesalahan sekecil apapun (kadang belum tau salahnya apa jg sudah main bentak dulu, ini yg bikin kesel sama orang korea) Selesai marah atau dimarahi, tapi orang Korea Selatan tidak menyimpan dendam di hati, persoalan berhenti sampai saat itu juga.
* Sebagian masyarakat Korea Selatan mempunyai pandangan bahwa bila kita minum bersama sampai mabuk maka tidak ada rahasia lagi diantara mereka dan mereka akan saling percaya dan bersahabat Untuk menghilangkan stress dan penat …
* Budaya Operasi plastik yang dilakukan oleh orang2 dikorea… Di korea 75% Warganya telah melakukan operasi plastic ( Padahal menurutku, tampang2 mereka sudah oke2 kok ditambah lagi warna kulitnya bagus)
* Warga Korea selatan dinobatkan sebagai warga paling stress di Dunia Whatt the?? 81% dari penduduk korea mengalami stress setiap harinya makanya banyak banget warga korea yang demen BUNDIR (Bunuh Diri) karena kehidupan korea yang keras…
Sejarah Korea.
Korea dimulai dengan pembentukan Joseon (atau lebih sering disebut dengan Gojoseon untuk menhindari persamaan nama dengan Dinasti Joseon pada abad ke 14) pada 2333 SM oleh Dangun. Gojoseon berkembang hingga bagian utara Korea dan Manchuria. Setelah beberapa kali berperang dengan Dinasti Han Gojoseon mulai berdisintegrasi.
Peta Tiga Kerajaan Korea pada akhir abad ke-5
Dinasti Buyeo, Okjeo, Dongye dan konfederasi Samhan menduduki Semenanjung Korea dan Manchuria Selatan. Goguryeo, Baekje, and Silla berkembang mengatur Tanjung Korea yang dikenal dengan Tiga Kerajaan Korea. Unifikasi yang dilakukan oleh Kerajaan Silla dengan menundukkan kerajaan Goguryeo berhasil membawa puncak ilmu pengetahuan dan budaya yang besar yang ditunjukkan dengan perkembangan puisi dan seni serta kemajuan agama Budha. Untuk pertama kalinya Semenanjung Korea berhasil disatukan oleh Silla pada tahun 676 menjadi Silla Bersatu. Para pelarian Goguryeo yang selamat mendirikan sebuah kerajaan lain di sisi timur laut semenanjung Korea, yakni Balhae. Hubungan antara Korea dan China berjalan dengan baik pada masa Dinasti Silla. Kerajaan ini runtuh akibat adanya kerusuhan dan konflik yang terjadi di dalam negeri pada abad ke 10, Kerajaan Silla jatuh dan menyerah kepada dinasti Goryeo pada tahun 935.
Silla Bersatu akhirnya runtuh di akhir abad ke-9, yang juga mengakhiri masa kekuasaan Tiga Kerajaan. Kerajaan yang baru, Goryeo, mulai mendominasi Semenanjung Korea. Kerajaan Balhae runtuh tahun 926 karena serangan bangsa Khitan dan sebagian besar penduduk serta pemimpinnya, Dae Gwang hyun, mengungsi ke Dinasti Goryeo. Selama masa pemerintahan Goryeo, hukum yang baru dibuat, pelayanan masyarakat dibentuk, serta penyebaran agama Buddha berkembang pesat. Tahun 993 sampai 1019 suku Khitan dari Dinasti Liao meyerbu Goryeo, tapi berhasil dipukul mundur. Kemudian di tahun 1238, Goryeo kembali diserbu pasukan Mongol dan setelah mengalami perang hampir 30 tahun, dua pihak akhirnya melakukan perjanjian damai.
Patung Raja Sejong pencipta abjad Hangeul
Pada tahun 1392, Taejo dari Joseon mendirikan Dinasti Joseon setelah menumbangkan Goryeo. Raja Sejong (1418-1450) mengumumkan penciptaan abjad Hangeul. Antara 1592-1598, dalam Perang Imjin, Jepang menginvasi Semenanjung Korea, tapi dapat dipatahkan oleh prajurit pimpinan Admiral Yi Sun-shin. Lalu pada tahun 1620-an sampai 1630-an Dinasti Joseon kembali menderita serangan dari (Dinasti Qing).
Pada awal tahun 1870-an, Jepang kembali berusaha merebut Korea yang berada dalam pengaruh Cina. Pada tahun 1895 Maharani Myeongseong dibunuh oleh mata-mata Jepang [2] Pada tahun 1905, Jepang memakasa Korea untuk menandatangani Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai protektorat Jepang, lalu pada 1910 Jepang mulai menjajah Korea. [3] Perjuangan rakyat Korea terhadap penjajahan Jepang dimanifestasikan dalam Pergerakan 1 Maret dengan tanpa kekerasan. Pergerakan kemerdekaan Korea yang dilakukan Pemerintahan Provisional Republik Korea lebih banyak aktif di luar Korea seperti di Manchuria, Cina dan Siberia.
Dengan menyerahnya Jepang di tahun 1945, PBB membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat, namun rencana tersebut tidak terlaksana. Pada tahun 1948, pemerintahan baru terbentuk, yang demokratik (Korea Selatan) dan komunis (Korea Utara) yang dibagi oleh garis lintang 38 derajat. Ketegangan antara kedua belah pihak mencuat ketika Perang Korea meletus tahun 1950 ketika pihak Korea Utara menyerang Korea Selatan.
Pemerintahan
Korea Selatan adalah negara presidensial. Seperti pada negara-negara demokrasi lainnya, Korea Selatan membagi pemerintahannya dalam tiga bagian: eksekutif, yudikatif dan legislatif. Lembaga eksekutif dipegang oleh presiden dan dibantu oleh perdana menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dewan perwakilan. Presiden bertindak sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Lembaga legislatif dipegang oleh dewan perwakilan yang menjabat selama 4 tahun. Pelaksanaan sidang paripurna diadakan setiap setahun sekali atau berdasarkan permintaan presiden. Sidang ini terbuka untuk umum namun dapat berlangsung tertutup.
Pengadilan konstitusional menjadi lembaga tertinggi pemegang kekuasaan yudikatif yang terdiri atas 9 hakim yang direkomendasikan oleh presiden dan dewan perwakilan. Hakim akan menjabat selama enam tahun dan usianya tidak boleh melebihi 65 tahun pada saat terpilih.
Pembagian Administratif
Korea Selatan terdiri dari 1 Kota Khusus (Teukbyeolsi; 특별시; 特別市), 6 Kota Metropolitan (Gwangyeoksi; 광역시; 廣域市), dan 9 Provinsi (do; 도; 道). Nama-nama di bawah ini diberikan dalam bahasa Inggris, Alihaksara yang Disempurnakan, Hangul, dan Hanja.
[sunting] Kota Istimewa/Khusus
* Kota Istimewa/Khusus Seoul
Pembagian administratif Korea Selatan.
Kota Metropolitan
* Kota Metropolitan Busan (Busan Gwangyeoksi; 부산 광역시; 釜山廣域市)
* Kota Metropolitan Daegu (Daegu Gwangyeoksi; 대구 광역시; 大邱廣域市)
* Kota Metropolitan Incheon (Incheon Gwangyeoksi; 인천 광역시; 仁川廣域市)
* Kota Metropolitan Gwangju (Gwangju Gwangyeoksi; 광주 광역시; 光州廣域市)
* Kota Metropolitan Daejeon (Daejeon Gwangyeoksi; 대전 광역시; 大田廣域市)
* Kota Metropolitan Ulsan (Ulsan Gwangyeoksi; 울산 광역시; 蔚山廣域市)
Provinsi
* Provinsi Gyeonggi (Gyeonggi-do; 경기도; 京畿道)
* Provinsi Gangwon (Gangwon-do; 강원도; 江原道)
* Provinsi Chungcheong Utara (Chungcheongbuk-do; 충청 북도; 忠清北道)
* Provinsi Chungcheong Selatan (Chungcheongnam-do; 충청 남도; 忠清南道)
* Provinsi Jeolla Utara (Jeollabuk-do; 전라 북도; 全羅北道)
* Provinsi Jeolla Selatan (Jeollanam-do; 전라 남도; 全羅南道)
* Provinsi Gyeongsang Utara (Gyeongsangbuk-do; 경상 북도; 慶尚北道)
* Provinsi Gyeongsang Selatan (Gyeongsangnam-do; 경상 남도; 慶尚南道)
* Provinsi Jeju (Jeju-do; 제주도; 濟州道)
Geografi
Luas Korea Selatan adalah 99.274 km², lebih kecil dibanding Korea Utara. Keadaan topografinya sebagian besar bergunung-gunung dan tidak rata. Pegunungan di wilayah timur umumnya menjadi hulu sungai-sungai besar, seperti sungai Han dan sungai Naktong. Sementara wilayah barat merupakan bagian rendah yang terdiri dari daratan pantai yang berlumpur. Di wilayah barat dan selatan yang terdapat banyak teluk terdapat banyak pelabuhan yang baik seperti Incheon, Yeosu, Gimhae, dan Busan.
Iklim
Iklim Korea selatan dipengaruhi oleh iklim dari daratan Asia dan memiliki 4 musim. Musim panas di Korea selatan yang dimulai bulan Juni bisa mencapai temperatur 40 derajat celcius (di kota Daegu), yang ditandai dengan datangnya musim hujan yang jatuh pada akhir bulan Juli sampai Agustus di seluruh bagian semenanjung. Sementara temperatur musim dinginnya rata-rata dapat jatuh pada suhu sejauh minus 10 derajat celcius di beberapa propinsi. Korea Selatan juga rentan akan serangan angin taifun yang menerjang selama bulan musim panas dan musim gugur. Beberapa tahun belakangan ini Korea selatan juga sering dilanda badai pasir kuning yang dibawa dari gurun gobi di Cina yang juga melanda Jepang dan sejauh Amerika Serikat.
Ekonomi
Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea Selatan telah mencapai rekor pertumbuhan yang memukau, membuat Korea Selatan ekonomi terbesar ke-12 di seluruh dunia. Setelah berakhirnya PDII, PDB per kapita kira-kira sama dengan negara miskin lainnya di Afrika dan Asia. Kemudian Perang Korea membuat kondisi semakin parah. Sekarang PDB per kapita kira-kira 20 kali lipat dari Korea Utara dan sama dengan ekonomi-ekonomi menengah di Uni Eropa. Pada 2004, Korea Selatan bergabung dengan "klub" dunia ekonomi trilyun dolar.
Kesuksesan ini dicapai pada akhir 1980-an dengan sebuah sistem ikatan bisnis-pemerintah yang dekat, termasuk kredit langsung, pembatasan impor, pensponsoran dari industri tertentu, dan usaha kuat dari tenaga kerja. Pemerintah mempromosikan impor bahan mentah dan teknologi demi barang konsumsi dan mendorong tabungan dan investasi dari konsumsi. Krisis Finansial Asia 1997 membuka kelemahan dari model pengembangan Korea Selatan, termasuk rasio utang/persamaan yang besar, pinjaman luar yang besar, dan sektor finansial yang tidak disiplin.
Pertumbuhan jatuh sekitar 6,6% pada 1998, kemudian pulih dengan cepat ke 10,8% pada 1999 dan 9,2% pada 2000. Pertumbuhan kembali jatuh ke 3,3% pada 2001 karena ekonomi dunia yang melambat, ekspor yang menurun, dan persepsi bahwa pembaharuan finansial dan perusahaan yang dibutuhkan tidak bertumbuh. Dipimpin oleh industri dan konstruksi, pertumbuhan pada 2002 sangat mengesankan di 5,8%.
Korea Selatan yang dianggap tidak stabil pada 1960-an, saat ini telah berubah menjadi negara industri utama dalam kurang dari 40 tahun.
Pada 2005, di samping merupakan pemimpin dalam akses internet kecepatan-tinggi, semikonduktor memori, monitor layar-datar dan telepon genggam, Korea Selatan berada dalam peringkat pertama dalam pembuatan kapal, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam serat sintetis, kelima dalam otomotif dan keenam dalam baja. Negara ini juga dalam peringkat ke-12 dalam PDB nominal, tingkat pengangguran rendah, dan pendistribusian pendapatan yang relatif merata.
Transportasi
Transportasi di Korea Selatan terdiri dari kereta api, bus, kapal ferry dan penerbangan udara. Jalur kereta api terdiri dari subway yang berada di enam kota: Seoul, Busan, Daegu, Gwangju, Daejon dan Incheon. Jalur darat di Korea Selatan sepanjang 86.990 km. Korail menyediakan pelayanan kereta api hampir keseluruh kota besar di Korea Selatan.
Korea Selatan memiliki 103 bandar udara dengan Bandar Udara Internasional Incheon sebagai bandar terbesar. Bandar udara Incheon dinobatkan sebagai bandar udara terbaik di dunia oleh Airport Council International. Bandar udara internasional lainnya yang terdapat di Korea Selatan adalah Gimpo, Busan dan Jeju.
Korean Air dibentuk pada tahun 1962, melayani 21.640.000 penumpang dengan 12.490.000 penumpang internasional.[4]. Asiana Airlines, dibentuk pada tahun 1988, melayani penerbangan domestik dan internasional. Penerbangan lain seperti Hansung Airlines dan Jeju Air melayani penerbangan domestik dengan harga yang lebih murah.
Tenaga Kerja Asing
Perkembangan ekonomi Korea Selatan yang sangat pesat tidak lepas dari banyaknya pekerja asing di Korea Selatan untuk bekerja di sektor-sektor industri menengah dan kecil yang menjadi motor penggerak industri besar.
[sunting] Chaebol
Salah satu hal yang unik dalam ekonomi Korea Selatan adalah peranan chaebol (konglomerat) yang mendominasi sejak lama dan kebanyakan didirikan setelah Perang Korea. Pada 1995, di antara 30 atas chaebol, empat grup teratas Hyundai, Samsung, Daewoo, dan LG Group. Pada 2003, hanya 4 dari 18 chaebol terbesar tetap berjalan. Namun, mereka tetap mendominasi aktivitas ekonomi.
Chaebol Korea Selatan sering dibandingkan dengan keiretsu Jepang. Perbedaannya adalah chaebol Korea masih dipegang oleh keluarga pendiri, tidak seperti keiretsu, yang dijalankan oleh manajer perusahaan profesional. Perbedaan kedua adalah pemerintah mencegah chaebol memiliki bank pribadi, sedangkan Keiretsu bekerja sama dengan bank tertentu, memberikan perusahaan tersebut mencyari kredit yang tidak terbatas.
Pendidikan
Pendidikan di Korea Selatan dibagi dalam beberapa bagian seperti pada umumnya di negara lain: kelompok bermain, sekolah dasar , pendidikan menengah, dan sekolah tinggi/universitas. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dari Program Penelitian Siswa Internasional OECD, Korea Selatan menempati urutan pertama dalam pemecahan masalah, urutan ketiga dalam matematika dan urutan kesebelas pada bidang sains[5]. Teknologi pada pendidikan di Korea juga dikembangkan hingga keseluruh daratan Korea dengan membuat jaringan akses internet berkecepatan tinggi di sekolah dasar dan lanjutan. Pemerintah Korea melalui Kementrian Pendidikan juga memberikan beasiswa bagi siswa-siswi yang berasal dari luar Korea hingga mencapai 100.000 siswa per tahun.[6]
Agama
Atheisme
46.5%
Buddha
22.8%
Protestan
18.3%
Katolik Roma
10.9%
Islam
0.4%
Agama lain
0.4%
Buddha Won
0.3%
Konfusianisme
0.2%
Cheondoisme
0.1%
Hampir sebagian besar rakyat Korea Selatan memilih tidak beragama atau atheisme. Buddha adalah agama yang mempunyai penganut terbesar di Korea Selatan dengan 10.7 milyar penduduk. Agama lainnya yang terbesar adalah Kristen Protestan dan Katolik Roma. Gereja Kristen terbesar di Korea Selatan, Yoido Full Gospel Church berlokasi di Seoul. Diperkirakan ada 45.000 warga Muslim Korea dengan 100.000 orang pekerja yang dari luar negeri yang berasal dari negara Muslim..
대한 민국
Daehan Minguk 大韓民國
Motto: 널리 인간을 이롭게 하라
Bawalah keuntungan kepada seluruh rakyat
Lagu kebangsaan: Aegukga (애국가)
Song Patriotik
LocationSouthKorea.png
Ibu kota : Seoul
37°35′ LU 127°0′ BT
Kota terbesar : Seoul
Bahasa resmi : Korea
Pemerintahan Republik
- Presiden : Lee Myung-bak
- Perdana Menteri : Chung Un-chan
Pendirian
- Pembinaan Gojoseon : 2333 BC[1]
- Deklarasi Republik : 1 Maret 1919
- Pemerintahan Provinsial : 13 April 1919
- Pembebasan: 15 Agustus 1945
- Konstitusi : 17 Juli 1948
- Proklamasi : 15 Agustus 1948 (haha,ultahku dirayain rakyat se-korea selatan)
Luas
- Total : 100.032 km2 (108)
- Air (%) : 0.3%
Penduduk
- Perkiraan 2008 : 48,379,392 (26)
- Sensus - -
- Kepadatan : 493/km2 (21)
PDB (KKB) : Perkiraan 2008
- Total : 947 miliar (15)
- Per kapita: 19.504 (36)
Mata uang Won Korea Selatan (KRW)
Zona waktu : (UTC+9)
- Musim panas: (DST) (UTC+9)
Domain internet : .kr
Kode telepon : 82
Tiga Kerajaan Korea
Silla.
Silla(tahun 57 Sebelum Masehi - 935 Masehi), seringkali diucapkan Shilla, adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea. Silla bermula dari kerajaan kecil di Konfederasi Samhan. pada tahun 660 Masehi Silla bersekutu dengan Dinasti Tang berhasil menaklukkan kerajaan Baekje serta Goguryeo pada tahun 668. Pada masa penyatuan ini seringkali disebut sebagai masa Silla Bersatu atau Silla Selanjutnya (Hu-silla) dimana wilayah kekuasaannya mencakup semua bagian semenanjung Korea, sementara sebelah utaranya adalah wilayah kekuasaan kerajaan baru, yang merupakan penerus dari kerajaan Goguryeo, Balhae. Setelah hampir 1000 tahun, Silla terpecah menjadi negeri-negeri kecil yang mengantarkan Korea pada masa Tiga Kerajaan Zaman Akhir, dan sampai pada akhirnya semuanya diserap oleh kerajaan baru, Dinasti Goryeo tahun 935.
Nama
Dari awal pendirian sampai perkembangannya menjadi kerajaan yang besar, nama Silla tercatat dalam banyak karakter Tionghoa (hanja) yang secara fonetis mungkin ditulis berdasarkan nama dugaan dari bahasa Korea kuno yaitu: Saro; 斯盧, Sara; 斯羅, Seora-beol; 徐羅(伐), Seona-beol; 徐那(伐), Seoya-beol; 徐耶(伐), atau pun Seo-beol; 徐伐. Arti kata-kata dugaan dari bahasa Silla itu kemungkinan adalah ibukota, walaupun masih menjadi teka-teki. Pada tahun 503, Raja Jijeung menetapkan tulisan hanja “新羅” yang dibaca Silla dalam bahasa Korea modern. Karena orang Korea kini seringkali mempalatalisasikan abjad maka penyebutan kata “Silla” terdengar seperti “Shilla” di telinga pendengar bahasa lain.
Kata yang paling mendekati adalah Seora-beol, dapat ditelusuri dari unsur bahasa Silla, syeo-beul, yang berarti ibukota kerajaan, yang kemudian berubah menjadi Syeo-ul, dan akhirnya Seo-ul. Seoul yang kini dikenal adalah ibukota Korea setelah berakhirnya masa Dinasti Joseon, dimana nama saat itu adalah Hanseong atau Hanyang.
Nama Silla pada zaman kuno dikenal luas oleh masyarakat Asia Timur Laut. Orang Yamato menyebutnya Shiragi, orang Jurchen (nenek moyang bangsa Manchu menyebut Solgo atau Solho. Dalam bahasa Tionghoa penyebutannya adalah Shin Luo.
Sejarah
Para ahli sejarah secara tradisional membagi sejarah Silla menjadi 3 bagian periode: awal (57 SM-654 M), tengah (654-780) dan akhir (780-935).
Perubahan kekuasaan
Silla diperintah oleh 3 keluarga (klan) kuat selama berdirinya, yaitu Bak (Park), Seok, dan Kim. Klan Bak sebagai pendiri berkuasa lebih dari 3 generasi sebelum menghadapi pemberontakan oleh klan Seok. Dalam masa-masa pemerintahan pertama raja keluarga Seok, Raja Talhae, klan Kim berperan sebagai klan aristokrat (bangsawan). Ketiga klan ini saling berebut kekuasaan sepanjang sejarah Silla.
Pendirian
Dalam masa Proto Tiga Kerajaan (masa sebelum Tiga Kerajaan), negara-negara kecil di bagian tengah dan selatan semenanjung Korea dikelompokkan ke dalam 3 konfederasi (negara bagian) bernama Samhan. Salah satunya bernama Jinhan yang memiliki 12 buah bagian-bagian yang lebih kecil. Salah satunya adalah negeri Saro (Saro-guk) yang merupakan asal dari Silla. Negeri Saro terbagi atas 6 desa dengan 6 kelompok klan.
Berdasarkan babad Goryeo Samguk Sagi yang ditulis pada abad ke-12, Silla didirikan oleh seseorang bernama Bak Hyeokgeose tahun 57 SM di kota yang sekarang adalah Gyeongju. Menurut legenda Bak Hyeokgeose lahir dari telur kuda putih. Ketika berusia 13, ke-6 kelompok klan mengangkatnya jadi pemimpin negeri Saro.
Pembuktian lewat bukti arkeologis menunjukkan bahwa walau ada negara yang berdiri pada masa itu di wilayah Gyeongju, masih terlalu dini untuk menyebut Silla sebagai sebuah kerajaan. Penulis Samguk Sagi dari zaman Goryeo, Kim Bu-shik, mungkin mencoba untuk mengesahkan bukti berdirinya Silla dengan memberi senioritas historis di atas rivalnya, Baekje dan Goguryeo.
Sejarah awal
Dalam masa kekuasaanya, tampuk kepemimpinan Silla berganti-ganti dengan peran 3 klan terkuat.
Mulai abad ke-2 M, Silla baru muncul sebagai kerajaan yang berkembang pesat di bagian tenggara semenanjung Korea. Silla memperluas kekuasaan dan pengaruh atas Konfederasi Jinhan pada abad ke-3 dan terus menjadi kuat.
Di bagian barat Baekje telah berdiri kokoh sejak tahun 250 setelah menundukkan Konfederasi Mahan. Di bagian barat daya, Konfederasi Gaya muncul dan mengambil alih Konfederasi Byeonhan. Sementara di utara, Goguryeo yang sejak tahun 50 mulai berdiri kokoh, berhasil mengusir perwakilan militer Tiongkok terakhir dari semenanjung Korea pada tahun 313 dan terus mengancam para tetangganya.
Berkembang jadi kerajaan
Raja Naemul (berkuasa 356-402) dari klan Kim menetapkan sistem monarki yang turun-temurun. Gelarnya kini telah menjadi Maripgan (han atau gan), yaitu gelar serupa dengan khan pada orang Turkik dan Mongol. Pada 377, ia mengirim utusan dan menjalin hubungan dengan Goguryeo.
Silla mencoba mendekati Goguryeo karena sedang mengalami tekanan dari Baekje dan Negeri Wa[1]. Namun saat Goguryeo mulai memperluas teritori ke selatan dan memindahkan ibukotanya ke Pyongyang tahun 427, Raja Nulji mencoba mengadakan persekutuan dengan Baekje.
Pada masa Raja Bopheung (514-540), Silla telah mencapai titik penuh sebagai negara kuat. Ia pun telah menggunakan Buddhisme sebagai agama negara dan mengendalikan negara-negara kecil di sekitarnya. Sekitar tahun 530-an Konfederasi Gaya dapat ditaklukkannya.
Pada masa Raja Jinheung (540-570), Silla mengembangkan armada perang yang kuat. Ia pernah membantu Baekje merebut wilayah Sungai Han yang diduduki Goguryeo namun pada tahun 553 merebut wilayah itu dari Baekje, mengakhiri 120 tahun aliansi kedua kerajaan itu. Peiode awal Silla berakhir dengan wafatnya Ratu Jindeok pada tahun 654.
Silla Bersatu
* Pada abad ke 7 Masehi, Silla menjalin hubungan dengan Dinasti Tang dari Tiongkok.
* Pada tahun 660 di bawah pemerintahan Raja Muyeol (berkuasa 654-661), berhasil menundukkan Baekje.
* Pada tahun 668, di bawah kekuasaan Raja Munmu Besar dan Jenderal Kim Yu-shin dengan bantuan militer Dinasti Tang, berhasil mengalahkan Goguryeo. Seluruh semenanjung Korea berhasil disatukan Silla setelah hampir 10 tahun mengusir seluruh koloni Dinasti Tang di sebelah utara. Para pelarian Goguryeo mendirikan negeri baru di timur laut semenanjung Korea bernama Balhae.
Para anggota keluarga pemimpin pada zaman Silla Bersatu digolongkan ke dalam sistem kelompok Jin-gol (keturunan tulang murni) dan Seong-gol (tulang suci) berdasarkan keturunan orang tuanya. Selain itu, sebagai akibat dari penyatuan wilayah-wilayah semenanjung Korea, para keluarga bangsawan semakin banyak mengumpulkan kekayaan. Pada masa-masa awal unifikasi terjadi beberapa kali pemberontakan oleh para pejabat istana, namun dapat ditekan oleh keluarga kerajaan dengan memindahkan mereka ke dalam jabatan-jabatan pusat. Untuk waktu yang lama, sekitar 1 abad (dari akhir abad ke-7 sampai akhir abad ke-8), kerajaan mengganti sistem penggajian pejabat dengan memberi tanah (no-geup) dengan sistem jikjeon atau dengan membayar gaji saja.
Akhir abad ke-8, klan Kim mulai menolak penggunaan sistem ini dan mulai memberontak. Pemberontakan terbesar adalah pembangkangan Kim Dae-gong yang berlangsung 3 tahun.
Periode tengah Silla berakhir dengan pembunuhan Raja Hyegong tahun 780 yang mengakhiri suksesi dari Raja Muyeol, tokoh penyatu Tiga Kerajaan. Kematiannya adalah puncak perselisihan panjang antar klan dalam kerajaan yang melibatkan sebagian besar anggota keluarga bangsawan.
Akibatnya keluarga bangsawan muncul sebagai kekuatan utama bagian internal sementara peran raja hanya sebagai tokoh kepala saja. Namun begitu, periode ini menyaksikan negeri ini pada titik puncak, dengan kuatnya hubungan dan konsolidasi keluarga kerajaan serta berhasilnya usaha mempraktekkan sistem birokrasi cara Tiongkok.
Penurunan dan kejatuhan
Akhir dari periode ini dinamakan Zaman Tiga Kerajaan Akhir, saat beberapa kerajaan yang mengatasnamakan pendahulunya bangkit dan memberontak seperti Hu-Baekje dan Hu-Goguryeo. Silla sendiri jatuh ke dalam pemberontakan dinasti baru, Goryeo pada tahun 935.
Politik dan sosial
Dari abad ke-6, Silla menetapkan sistem yang ketat dalam bidang birokrasi dan hukum. Pangkat dan status sosial pejabat diukur berdasarkan sistem ranking tulang. Begitu pula pada cara berpakaian, bentuk rumah dan jumlah perkawinan yang diperbolehkan, semuanya diatur menurut hukum tertentu. Kelas anggota keluarga kerajaan dibagi menjadi 2, yaitu kelas tulang suci (seong-gol) dan tulang murni (jin-gol). Sistem ini berakhir ketika penguasa terakhir dari kelas tulang suci, Ratu Jindeok wafat pada tahun 654[1]. Jumlah bangsawan dari kelas tulang suci pun semakin menurun karena calon raja/ratu hanya boleh berasal dari keturunan yang kedua orang tuanya berasal dari kelas tulang suci, sementara keturunan dari orang tua tulang suci yang menikah dengan kelas tulang murni dianggap masuk ke kelas tulang murni.
Sejak menguatnya kebijakan negara yang tersentralisasi, masyarakat Silla juga dipengaruhi oleh kebijakan aristokrat yang ketat. Sistem birokrasi negara pun mengadopsi cara Tiongkok untuk mengurus wilayah yang sangat luas. Sebelum masa unifikasi, Raja Silla menganggap dirinya sangat besar dan menyamai sang Buddha. Sedangkan hal-hal mencolok yang mewarnai periode setelah unifikasi adalah meningkatnya konflik antar kelompok, antara keluarga kerajaan dengan bangsawan.
Budaya
Ibukota Silla adalah Seora-beol (saat ini Gyeongju). Di sana sejumlah besar makam Silla masih bisa ditemui di pusat kota Gyeongju. Kuburan-kuburan raja Silla yang berbentuk gundukan bukit-bukit kecil serta benda-benda berharga dari zaman itu dapat ditemukan di seluruh wilayah Gyeongju. Wilayah Bersejarah Gyeongju dimasukkan oleh UNESCO dalam daftar Warisan Dunia pada tahun 2000[2]. Sebagian besar dari kota kuno Silla ini juga dilindungi dalam wilayah Taman Nasional Gyeongju[3] .
Peniggalan-peninggalan termashyur Silla di Gyeongju:
* Lonceng Perunggu Raja Seongdeok.
* Cheomseongdae, observatori astronomi tertua di Asia Timur yang dibangun pada masa Ratu Seondeok (berkuasa 623-647).
Silla juga terkenal di kalangan pedagang Muslim Timur Tengah yang pergi berdagang ke Tiongkok lewat jalur sutra. Ahli geografi Arab dan Persia seperti Ibn Khuradhih, Al-Masudi, Dimashiki, Al-Nawairi dan Al-Maqrizi menuliskan catatan-catatan tentang Silla.
Buddhisme
Raja Bopheung secara resmi masuk agama Buddha pada tahun 527, walau sebenarnya sudah diperkenalkan sejak lebih dari 100 tahun sebelumnya di Silla. Buddhisme diperkenalkan ke Silla oleh Biksu A-do, seorang pelarian Goguryeo pada pertengahan abad ke-5[4]. Cerita menyebutkan bahwa Raja Bopheung memeluk agama Buddha setelah mengeksekusi seorang bangsawan istana bernama Ichadon hanya karena ingin darahnya berwarna putih susu.
Buddhisme di Silla lebih kuat dibanding di Goguryeo atau Baekje karena merupakan agama negara. Dari Raja Bopheung sampai 6 penguasa berikutnya, menggunakan nama Buddhis dan menganggap diri mereka setara dengan Buddha[5]. Dalam hal pertahanan negara dibentuklah barisan militer Hwarang, para pemuda yang memiliki pemahaman Buddhisme yang kuat. Mereka juga memainkan perang penting dalam penyatuan semenanjung. Masa-masa akhir periode awal Silla adalah saat Budhisme mencapai puncak. Sejumlah besar kuil didirikan dengan dana dan sponsor bangsawan. Yang paling terkenal adalah Bulguksa, Seokkuram, dan Hwangyongsa (Kuil Kaisar Naga) yang dibangun dengan 9 tingkat pagoda kayu, melambangkan 9 buah negeri yang bersatu dalam Silla. Hwangyongsa runtuh karena terbakar dalam invasi Mongol ke Goryeo abad ke-12. Kuil Buddha Silla melambang kekuatan kerajaan dan peran Buddhisme dalam ekspansi dan proteksi negara.
Dengan bersatunya Tiga Kerajaan dalam Silla Bersatu, agama Buddha kurang menjadi begitu penting saat negara mulai mengadopsi metode birokrasi Tiongkok untuk mengelola negara yang semakin besar dan juga untuk mengekang kekuasaan keluarga bangsawan. Namun Buddhisme tetap mendapat tempat khusus rakyat Silla. Banyak dari biksu-biksu pergi ke Tiongkok belajar dan mencari sutra. Hasil seni dan kerajinan Silla sangat dipengaruhi unsur-unsur Buddhisme yang kental.
Baekje
Baekje (16 SM-660 M) adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea, menguasai wilayah sebelah barat daya Semenanjung Korea. Baekje mengaku sebagai penerus dari kerajaan Buyo dari Manchuria.
Kerajaan Baekje didirikan oleh Raja Onjo, putra ke-3 dari Jumong, raja pendiri Goguryeo. Baekje beribukotakan di Wiryeseong, yang saat ini dekat dengan kota Seoul. Puncak keemasan Baekje terjadi pada abad ke-4 Masehi ketika kekuasaannya meliputi wilayah semenanjung Korea sebelah barat daya sejauh kota Pyongyang. Baekje runtuh tahun 660 setelah dikalahkan oleh gabungan Silla dan Dinasti Tang, lalu setelah itu menjadi wilayah kekuasaan Silla Bersatu.
Pendirian
Goguryeo tomb mural.jpgSejarah Korea
Prasejarah
Zaman Jeulmun
Zaman Mumun
Gojoseon
Jin
Proto Tiga Kerajaan:
Buyeo, Okjeo, Dongye
Samhan: Ma, Byeon, Jin
Tiga Kerajaan:
Goguryeo
Baekje
Silla
Gaya
Zaman Negara Utara-Selatan:
Silla Bersatu
Balhae
Tiga Kerajaan Akhir:
Taebong, Hubaekje
Goryeo
Joseon
Kekaisaran Han
Penjajahan Jepang
Pemerintahan Sementara
Pembagian Korea
Korea Utara, Korea Selatan
Perang Korea
* Penguasa
* Garis waktu
* Sejarah Militer
* Perang Laut
Portal Korea
Berdasarkan babad Korea Samguk Sagi, Baekje didirikan tahun 18 SM oleh Raja Onjo yang memimpin sebagian kecil warga Goguryeo menuju selatan Semenanjung Korea, tepatnya di wilayah propinsi Jeolla saat ini. Berdasarkan catatan sejarah Tiongkok, San Guo Zhi, pada masa Samhan, salah satu wilayah Konfederasi Mahan ada yang bernama Baekje.
Samguk sagi memberikan penjelasan detail mengenai pendirian Baekje. Jumong meninggalkan putranya Yuri di Buyo ketika ia meninggalkan kerajaan tersebut untuk mendirikan Goguryeo . Jumong bergelar Dongmyeongseong setelah diangkat jadi raja di Goguryeo. Ia mempunyai 2 putra lagi dari istri ke-2 nya di Goguryeo , yaitu Onjo dan Biryu. Ketika Yuri datang ke Goguryeo , Jumong langsung menggelarinya sebagai putra mahkota. Mengetahui bahwa Yuri akan dijadikan raja selanjutnya, Onjo dan Biryu memutuskan untuk hijrah ke selatan bersama 10 orang budak.
Onjo menetap di Wiryeseong (sekarang Hanam) dan mendirikan kerajaan yang disebut Sipje ("Sepuluh Budak"), sementara Biryu menetap di Michuhol (sekarang Incheon). Sipje hidup dengan makmur, sedangkan Biryu harus bertahan susah payah karena Michuhol berair asin dan tanahnya berawa-rawa. Biryu lalu pergi menuju Wiryeseong untuk meminta Onjo menyerahkan tampuk kepemimpinan padanya, namun Onjo menolak dan membuat Biryu mendeklarasikan perang. Biryu kalah dalam perang tersebut dan bunuh diri karena malu. Para pengikut Biryu pindah ke Wiryeseong dan diterima senang hati oleh Onjo. Onjo lalu mengganti nama kerajaanya dengan :"Baekje" atau "Seratus Budak".
Karena adanya tekanan dari negara bagian lain dari Konfederasi Mahan (Baekje pada awalnya merupakan negara bagian dari Konfederasi Mahan), Raja Onjo memindahkan ibukota dari selatan ke sebelah utara sungai Han, lalu pindah lagi ke selatan. Raja Gaeru memindahkan ibukotanya ke Gunung Buk (Bukhan) tahun 132 M di wilayah yang diperkirakan dekat dengan kota Kwangju saat ini.
Baekje perlahan-lahan menjadi kuat dan mulai mengendalikan banyak negara bagian Mahan. Masa ini disebut zaman Proto Tiga Kerajaan.
Ekspansi
Dalam masa pemerintahan Raja Goi tahun 234-286, Baekje menjadi kerajaan seutuhnya. Babad Jepang, Nihon Shoki menyebutkan ekspansi Baekje mencapai wilayah Konfederasi Gaya di lembah Sungai Nakdong di sebelah tenggara semenanjung Korea. Rekaman sejarah Tiongkok pertama menyebutkan Baekje sebagai sebuah kerajaan adalah pada tahun 345. Misi diplomatik pertama dari Baekje yang mencapai Jepang berdasarkan Nihon Shoki adalah pada tahun 367.
Raja Geunchogo (berkuasa dari 346-375) menyatukan berbagai negara bagian Konfederasi Mahan serta memperluas teritorinya ke utara melawan Goguryeo. Dalam masa pemerintahannya wilayah Baekje meliputi wilayah Korea sebelah barat, dan pada tahun 371 pernah mengalahkan Goguryeo dalam perang di Pyongyang. Baekje juga tercatat pernah menjalin hubungan dagang dengan Goguryeo , mengadopsi kebudayaan dan teknologi Tiongkok, serta menganut agama Buddha pada tahun 384.
Baekje yang mempunyai armada laut yang kuat, menjalin hubungan baik dengan pemimpin Jepang pada zaman yamato. Baekje mentransfer tulisan hanja, agama Buddha, kemampuan membuat tembikar, upacara penguburan dan berbagai bentuk kebudayaan lain kepada Jepang melalui bangsawan, seniman, ahli, dan pendeta Buddhanya.
Periode Ungjin
Ibukota Baekje pindah ke Ungjin (sekarang Gongju) dari tahun 475-538. Hal ini disebabkan perang dengan Goguryeo yang menyebabkan Wiryeseong jatuh ke tangan Goguryeo . Nihon Shoki menyebutkan bahwa Ungjin diberikan oleh kaisar Jepang kepada Raja Munju, yang menunjukkan bahwa wilayah ini dikuasai oleh Jepang (terletak di Korea). Ungjin terletak di dalam wilayah pegunungan, sehingga terisolasi dari dunia luar. Pada periode ini Baekje membentuk aliansi bersama Silla untuk melawan Goguryeo
Periode Sabi
Periode Sabi berlangsung dari tahun 538-660, saat tahun 538 Raja Seong memindahkan lagi ibukota ke Sabi (saat ini kabupaten Buyo). Masa ini Baekje berkembang pesat, dan secara resmi nama lainnya adalah Nambuyo (Buyo Selatan), yang diambil dari Kerajaan Buyo, asal muasal dari Baekje.
Raja Seong mempererat hubungan dengan Tiongkok dalam bidang perdagangan dan diplomasi selama abad ke-6 dan ke-7. Sementara itu, hubungan dengan Silla semakin merenggang.
Kejatuhan dan Pergerakan Kebangkitan
Pada than 660, tentara aliansi Silla dan Dinasti Tang menyerang Baekje. Kota Sabi jatuh ke tangan Silla, sementara Raja Uija dan putranya diasingkan ke Tiongkok. Beberapa anggota kerajaan lain melarikan diri ke Jepang. Sisa-sisa warga Baekje berupaya mengadakan pergerakan kebangkitan di dalam kekuasaan aliansi Silla dan Tang yang memiliki tentara mencapai 130.000 orang. Jenderal Boksin menunjuk pangeran Buyo Pung (putra Raja Uija yang selamat) sebagai raja baru Baekje. Baekje meminta pertolongan pada Pangeran Naka no Ōe (yang nanti menjadi Kaisar Tenji) dari Jepang. Pangeran Naka no Ōe mengirimkan Abe no Hirafu, seorang gubernur propinsi Koshi ke Baekje.
Pada tahun 663, sisa-sisa tentara Baekje bergabung dengan tentara Jepang dalam pertempuran di atas air melawan Silla dalam Perang Baekgang. Tang juga mengirimkan 7000 tentara dan 170 kapal perang. Baekje menderita kekalahan setelah terjadi 5 kali pertempuran di sungai Geum selama bulan Agustus tahun 663.
Struktur Sosial dan Politik
Raja Goi pertama kali menerapkan sistem patrilineal yang melestarikan suksesi kerajaan.
Pada awal periode Baekje, Hae dan Jin adalah dua klan yang berpengaruh, sebagian besar ratu berasal dari kedua klan ini dan suksesi ini berlangsung dalam waktu yang lama. Kemungkinan besar klan Hae adalah klan yang menguasai tampuk kerajaan sebelum digantikan oleh klan Buyo. Kedua klan ini kemungkinan juga berasal dari Kerajaan Buyo di utara. Klan Hae dan Buyo bersama 7 klan yaitu Sa, Yeon, Hyeop, Jin, Guk, Mok, dan Baek adalah klan-klan kuat di masa Sabi.
Pegawai kantor kerajaan dibagi ke dalam 16 ranking, 6 orang anggota pertama dari ranking membentuk sebuah kabinet, dengan pemimpin dipilih setiap 6 tahun sekali. Dalam ranking Sol, pegawai pertama (Jwapyeong) sampai ke-6 (Naesol) bertanggung jawab dalam urusan politik, adminstrasi, dan militer. Dalam tingkat Deok, pegawai ke-7 (Jangdeok) sampai ke-11 (Daedeok) mungkin ditugaskan dalam banyak bidang, sedangkan tingkatan Mundok, Mudok, Jwagun, Jinmu dan Geuku bertanggung jawab sebagai administrator kemiliteran.
Bahasa dan Kebudayaan
Baekje didirikan oleh imigran dari Goguryeo yang berbicara bahasa Buyo, yang masih berhubungan dengan bahasa kerajaan Gojoseon dan Kerajaan Buyeo. Sedangkan rakyat Samhan (yang pernah menguasai Baekje) kemungkinan berbicara dalam bahasa yang sama namun mempunyai dialek atau variasi bahasa berbeda dengan bahasa Buyo, karena nenek moyangnya berasal dari tempat yang sama, namun orang Samhan sudah datang ke selatan terlebih dahulu.
Seniman Baekje mengadopsi budaya Tionghoa dan menyesuaikannya menjadi tradisi yang unik. Hasil karya seni Baekje sangat dipengaruhi oleh agama Buddha. Keindahan seni Baekje terlukis dalam Senyum Baekje yang terdapat pada banyak karya seni dan patung Buddha. Pada masa Sabi di tahun 541, banyak seniman dari Tiongkok (Dinasti Liang) dikirim ke Baekje, sehingga semakin memperluas pengaruh Tiongkok pada kebudayaan Korea. Namun, pengaruh asli Baekje tidak hilang begitu saja. Makam raja Muryeong (berkuasa 501-523) walaupun dimodelkan dari Tiongkok namun tidak menghilangkan tradisi asli Baekje. Dalam makam tersebut ditemukan ornamen khas Baekje seperti mahkota, ikat pinggang emas, dan giwang emas. Karya seni khas Baekje yang lain adalah desain genting batu bebentuk lotus, pola batu bata yang menjalin, lekukan dalam gaya keramik, bentuk epitaph yang elegan, ukiran-ukiran Buddha, pagoda, pembakar dupa dan sebagainya.
Sedikit yang diketahui mengenai musik Baekje, namun, musisi-musisinya pernah dikirim ke Tiongkok pada abad ke-7 untuk belajar.
Hubungan dengan Tiongkok
Pada tahun 372, Raja Geunchogo membayar upeti kepada Dinasti Jin di Tiongkok yang terletak di lembah sungai Yangtze. Setelah kejatuhan Jin dan berdirinya Dinasti Song pada tahun 420, Baekje kembali mengirimkan utusan untuk berdagang barang-barang kultural dan teknologi Tiongkok.
Baekje mengirimkan utusan ke Wei Utara pada tahun 472 untuk pertama kalinya, dan Raja Gaero meminta bantuan militer guna melawan Goguryeo. Raja Muryeong dan putranya, Raja Seong juga mengirimkan utusan-utusannya ke Dinasti Liang beberapa kali guna menerima gelar kehormatan.
Dalam pengaruh budaya, makam Raja Muryeong dibuat berdasarkan gaya makam Liang.
Peran Baekje di daratan Tiongkok
Walau kontroversial, beberapa teks kuno Tiongkok dan Korea menunjukkan bahwa wilayah teritori Baekje juga mencakup bagian-bagian dari daratan Tiongkok.[2][3][4][5]
Menurut teks Tiongkok, Kitab Song,“Goguryeo menduduki Liaodong dan Baekje menduduki wilayah Liaoxi (kini Tangshan, Hebei); daerah yang dikuasai Baekje bernama Ditrik Jinping, Propinsi Jinping.”[6] Menurut Kitab Jin mengenai Murong Huang, menyebutkan bahwa aliansi Goguryeo, Baekje dan Xianbei melakukan peperangan.[7] Babad Goryeo Samguk Sagi menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada masa Raja Micheon dari Goguryeo (309-331).
Menurut Kitab Liang, “Pada masa Dinasti Jin (265-420), Goguryeo menduduki Liaodong, dan Baekje menduduki Liaoxi dan Jinping, mendirikan propinsi-propinsi Baekje.”[8]
Kitab Zizhi Tongjian, yang ditulis Sima Guang (1019-1086) dari Dinasti Song (960-1279), menyebutkan bahwa tahun 346, Baekje menyerang negeri Buyeo, yang berada di Lushan, dan menyebabkan penduduk negeri itu mengungsi ke sebelah barat negeri Yan.[9] Tahun itu merupakan masa pemerintahan Raja Geunchogo (346-375).
Penjelasan yang sama dari Kitab Qi dan Zizhi Tongjian, menyebutkan bahwa Dinasti Wei Utara (386-534) menyerang Baekje dengan 100 ribu orang tentara pada tahun 488, namun dapat dipatahkan oleh Baekje. Catatan ini juga dijelaskan di Samguk-sagi, yaitu terjadi pada masa Raja Dongseong (tahun 488).[10] Karena tidak mungkinnya pasukan Wei melakukan serangan ke Baekje tanpa melewati wilayah Goguryeo (semasa Raja Jangsu) di semenanjung Korea bagian utara, kemungkinan perang tersebut terjadi di wilayah Baekje di daratan Tiongkok (Liaoxi).
Kitab Qi juga menyebutkan pada tahun 495, pemimpin Baekje, Raja Dongseong meminta gelar kehormatan untuk para jenderal yang berjasa menumpas serangan Wei kepada Dinasti Qi Selatan. Qi Selatan memberi gelar sesuai dengan daerah-daerah di propinsi Baekje, seperti Guangling, Qinghe, Chengyang, dan lainnya.[11]
Bagian Teritori dari teks Mǎnzhōu Yuánliú Kǎo (满洲源流考, "Pertimbangan Asal Manchu") juga menyebutkan tentang wilayah teritori Baekje, dengan jelas menuliskan bagian dari Liaoxi:[12]
Perbatasan dari Baekje dimulai dari Guangning dan Jiyi (kini) di wilayah barat laut dan melintasi laut di arah timur sampai wilayah Joseon yakni Hwanghae, Chungcheong, Jeolla dan sebagainya. Dari timur ke barat, teritori Baekje sempit, panjang dari utara ke selatan. Lalu jika seseorang melihat dari wilayah Baekje, dari Liucheng dan Beiping, Silla terletak di sebelah tenggara Baekje, namun jika seseorang melihat dari Gyeongsang dan Ungjin di Baekje, Silla terletak di timur lautnya. Wilayah Baekje juga berbatasan dengan wilayah Mohe di utara. Ibukotanya memiliki 2 kastil di 2 wilayah berbeda di barat dan timur. Kedua kastil disebut “Goma.” Kitab Song menyebutkab bahwa wilayah Baekje di Tiongkok dinamakan distrik Jinping dari Propinsi Jinping. Tong-gao menyebutkan bahwa propinsi Jinping terletak di antara Liucheng dan Beiping pada masa Dinasti Tang.[13]
Maka, salah satu ibukota Baekje terletak di Liaoxi dan satunya berada di semenanjung Korea. Barulah pada masa Kaisar Wu dari Liang, Baekje memindahkan ibukotanya ke semenanjung Korea.
Baik Kitab Sejarah Lama dan Baru Dinasti Tang menyebutkan bahwa wilayah kekuasaan Baekje lama telah diserap oleh Silla dan Balhae.[14] Jika wilayah Baekje hanya terbatas pada barat laut semenanjung Korea saja, maka tidak mungkin bagi Balhae untuk menyerap wilayah-wilayah Baekje. Ilmuwan ternama Silla Choi Chi-won (857-?) menuliskan bahwa “Goguryeo dan Baekje pada masa keemasannya memiliki militer yang sangat kuat yang mencapai satu juta orang, dan menginvasi negeri Wu dan Yue di selatan dan negeri You, Yan, Qi, dan Lu di sebelah utara daratan Tiongkok, membuat gangguan besar bagi dinasti-dinasti Negeri Tengah (Tiongkok).”[15]
Berdasarkan catatan-catatan sejarah ini, Baekje kemungkinan memiliki wilayah Liaoxi lebih dari 100 tahun lamanya.
Hubungan dengan Jepang
Bantuan militer
Karena berkonflik dengan Goguryeo dan Silla, Baekje (diterjemahkan Kudara dalam bahasa Jepang) menjalin hubungan yang dekat dengan Jepang. Menurut babad Korea Samguk Sagi, Baekje dan Silla mengirimkan pangeran mereka ke Wa (Jepang) sebagai sandera.[16] Sebagai balasannya, Jepang memberi bantuan militer.[17]
Samguk Sagi dan Samguk Yusa menjelaskan bahwa beberapa keturunan keluarga kerajaan dan bangsawan Baekje sangat dihormati istana kekaisaran Jepang. Yamato mendapat pengaruh kuat dari Baekje dan menjalin hubungan baik dengan daratan Korea, seperti pada masa Kaisar Yomei, ketika didirikannya kuil Buddha Horyuji, sehingga Buddhisme dari Korea perlahan mengalir ke Jepang. Diketahui juga bahwa Raja Muryeong dari Baekje, raja ke-25, ternyata dilahirkan di Jepang.
Teks sejarah Tiongkok Kitab Sui dari Dinasti Sui menyebutkan bahwa Baekje mendapat bantuan militer dari Jepang pada perjanjian sungai Baekchon.[18]
Babad Nihon Shoki yang kontroversial menyebutkan bahwa Maharani Jingu menerima upeti dan membangun aliansi dengan raja-raja Baekje, Silla, dan Goguryeo. Lebih jauh, Nihon Shoki juga menuliskan bahwa Konfederasi Gaya adalah permukiman Yamato. Tidak satupun catatan sejarah Korea atau Tiongkok yang pernah menyebutkan bahwa Yamato pernah menduduki Korea.
Nihon Shoki memberi detil tentang tanggal invasi Silla ke Baekje pada akhir abad ke-4. Namun, pada waktu ini Jepang adalah negeri konfederasi dari penguasa-penguasa lokal, sementara itu Tiga Kerajaan Korea sudah secara penuh berdiri. Rasanya sangat tidak mungkin bahwa negeri yang baru berkembang seperti Yamato dapat menerima upeti dan memiliki kekuasaan di atas Baekje, yang diketahui sangat mempengaruhi mereka, apalagi Goguryeo, kekuatan terbesar saat itu. Nihon Shoki dianggap sebagai sumber informasi yang tidak dapat dipercaya karena penuh dengan pernyataan dugaan dan cerita legenda.[19]
Beberapa sejarawan Jepang menerjemahkan Prasasti Gwanggaeto yang bertarikh tahun 414 Masehi yang didirikan Raja Jangsu dari Goguryeo, sebagai penjelasan dari invasi Jepang pada bagian selatan semenanjung Korea. Yang lain mengklaim bahwa prasasti itu telah dimodifikasi dan bahwa tulisan mengenai kehadiran Jepang di daratan Asia telah ditambahkan oleh tentara Jepang yang menemukan prasasti kuno itu pada tahun 1910, bersamaan dengan dimulainya penjajahan Korea oleh Jepang. Beberapa sejarawan RRT dan Jepang yang mempelajarinya, tidak dapat percaya informasi yang tertulis di prasasti, akibat kerusakan yang disengajakan.
Kejatuhan dan pengungsian ke Jepang
Beberapa anggota kerajaan dan bangsawan Baekje sudah tinggal di Jepang bahkan sebelum kerajaan tersebut mengalami kejatuhan tahun 660. Anggota keluarga kerajaan terdahulu pada awalnya dianggap sebagai“tamu asing” (蕃客) dan tidak diizinkan memasuki sistem politik kekaisaran selama beberapa waktu.
Atas respon dari permintaan Baekje, pada tahun 663, Jepang mengirimkan jenderal Abe no Hirafu bersama pangeran Buyeo Pung (Jepang: Hōshō), seorang putra Raja Uija yang tinggal di Jepang dan 20 ribu orang pasukan dan seribu buah kapal untuk membantu memulihkan Baekje.
Usaha ini gagal dalam Pertempuran Baekgang, dan pangeran Buyeo Pung melarikan diri ke Goguryeo. Berdasarkan Nihon Shoki, 400 buah kapal Jepang hancur dan hanya setengah dari pasukan yang kembali ke Jepang.
Kembalinya para pasukan Jepang diikuti banyak pengungsi dari Baekje. Adik laki-laki Buyeo Pung, Sun-gwang (Jepang; Zenkō) menggunakan nama keluarga Kudara no Konikishi ("Raja Baekje";百濟王) yang diberikan oleh Kaisar Kammu. Keturunan kerajaan Baekje di Jepang disebut keluarga/klan Kudara. Menurut kitab Shoku Nihongi, ibunda dari Kaisar Kammu, Takano no Niigasa (高野新笠, ?–790), adalah keturunan langsung Raja Muryeong dari Baekje. Kaisar Kammu menganggap klan Kudara no Konikishi sebagai “kerabat dari pernikahan.”
Banyak klan di Jepang yang merupakan keturunan dari keluarga kerajaan Baekje seperti klan Ouchi, klan Sue, dan sebagainya.
Warisan
Baekje bangkit lagi pada periode Tiga Kerajaan Korea Zaman Akhir, saat Silla Bersatu jatuh. Pada tahun 892, jenderal Gyeon Hwon mendirikan Hubaekje (“Baekje Selanjutnya”), Wansan (dekat Jeonju). Hubaekje digulingkan pada tahun 936 oleh Taejo dari Goryeo.
Pada masa sekarang, warisan Baekje dapat ditemukan di daerah barat laut semenanjung Korea, khususnya meliputi propinsi Chungcheong Selatan dan Jeolla. Berbagai karya budaya Baekje yang berharga sampai sekarang masih dipelihara antara lain pembakar dupa, kuil-kuil Buddha, patung dan ukiran Buddha, mahkota, perhiasan dan sebagainya. Beberapa harta nasional Jepang yang ditemukan di kuil-kuil Buddha dan museum-museum Jepang adalah warisan karya seni dari Baekje.
Seberapa Kuat Angkatan Bersenjata Korea Selatan?
Untuk tentara aktif, Korea Selatan punya tentara aktif sebesar 687.000(enamratus delapanpuluh ribu) orang, jadi ebih sedikit dibanding Korea Utara.
Tentara cadangan Korea Selatan sebesar 4500.000(empat juta limaratus ribu) orang.
Angkatan Daratnya, Korea Selatan punya 2330 tank, senjata lain sejumlah 4520, artileri sebesar 10.774, dan helikopter 418.
Kekuatan Angkatan lautnya, Korea Selatan punya kapal selam 12. Jauh lebih kecil dibanding Korea Utara. Frigat 9, lebih besar dari Korea Utara. Dan kapal Amphibi 48. Ini sebenarnya cukup mengejutkan, karena Korea Selatan jauh ketinggalan dibanding Korea Utara yang berhaluan komunis itu.
Bagaimana dengan angkatan udara? Korea Selatan jumlah jet tempurnya cukup berimbang dengan korea Utara yaitu 468. Pesawat transportasi sejumlah 33. Yang ini Korea sangat ketinggalan jauh dibanding Korea Utara. Begitu juga helikopter, Korea Selatan hanya punya 159.
Penduduk Korea Selatan berjumlah 46,5 juta, Korea Utara berjumlah 22,7 juta..
いらっしゃいませえ~
이건 내 개인 블로그이야.여기는 모두다 이상한것은..그냥 조심해용. this is my PERSONAL BLOG. I post what I like, I feel, and I want :) thanks for visiting my freak blog :D
Archive
Tags
A-JAX
(3)
absurd
(8)
birthday
(1)
comeback
(4)
dreaming
(2)
friendship
(3)
INFINITE
(7)
interview
(1)
k-pop
(10)
korean story
(1)
lyrics
(5)
Master
(1)
mental breakdown
(2)
movie
(1)
personal life
(12)
random
(8)
Sasaeng Fans
(1)
sexual violence
(1)
Stalker
(1)
story
(1)
Sunggyu
(2)
tips and trick
(1)
Total Pages View
What Time is it Now?
Calendar
Cuteki kawaii
'Muka Buku' ._.
2010/01/21
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar